Rabu, 29 April 2026

Perubahan Jadwal Pelaksanaan Halal Bi Halal JATMAN Sidoarjo di Pendopo Kabupaten Sidoarjo

Jam'iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Syu'biyah Sidoarjo

Setelah dilaksanakan musyawarah bersama Bagian Kesra Pemerintah Kabupaten Sidoarjo pada Selasa, 28 April 2026, panitia memutuskan adanya perubahan jadwal pelaksanaan kegiatan Halal Bi Halal JATMAN Sidoarjo yang sebelumnya direncanakan pada Ahad, 10 Mei 2026.

Musyawarah tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan penting demi kelancaran dan kesuksesan acara yang akan digelar di Pendopo Kabupaten Sidoarjo.

Adapun hasil rapat bersama Bagian Kesra Kabupaten Sidoarjo adalah sebagai berikut:

1. Pelaksanaan Halal Bi Halal ditetapkan pada Sabtu malam Minggu (Pahing), 9 Mei 2026.

2. Kegiatan dimulai ba’da Ashar pukul 15.00 WIB.

3. Jumlah jamaah yang akan dihadirkan sebanyak 1.000 jamaah.

4. Pembicara yang diharapkan oleh Pemerintah Kabupaten adalah Rois JATMAN.

5. Disiapkan ruangan khusus untuk Jam'iyyah Ruqyah Aswaja (JRA).

Dengan adanya perubahan ini, diharapkan seluruh jamaah, pengurus, dan pihak terkait dapat menyesuaikan jadwal serta mempersiapkan diri untuk menyukseskan acara tersebut.

JATMAN Sidoarjo mengajak seluruh jamaah untuk hadir dan menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung, sehingga momentum halal bi halal ini menjadi ajang mempererat ukhuwah, memperkuat silaturahmi, serta meningkatkan sinergi antara ulama, umara, dan masyarakat Kabupaten Sidoarjo.

Senin, 27 April 2026

JATMAN Sidoarjo Gelar Halal Bi Halal Akbar di Pendopo Kabupaten Sidoarjo, Berkolaborasi dengan JQH NU dan JRA

Jam'iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Syu'biyah Sidoarjo

 

JATMAN Sidoarjo akan menggelar acara Halal Bi Halal Akbar yang dipusatkan di Pendopo Kabupaten Sidoarjo pada hari Ahad, 10 Mei 2026. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai momentum mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat silaturahmi antar jamaah, serta memperkokoh sinergi antar badan otonom Nahdlatul Ulama di Kabupaten Sidoarjo.

Acara ini merupakan kolaborasi bersama Jam'iyyah Qurro' Wal Huffadz NU (JQH NU) dan Jam'iyyah Ruqyah Aswaja (JRA), sehingga diharapkan menghadirkan rangkaian kegiatan yang penuh manfaat spiritual, sosial, dan kebersamaan.

Rangkaian acara akan dimulai sejak pagi hari dengan jadwal sebagai berikut:

06.00 – 14.00 WIB : Khotmil Qur'an

14.00 – 16.00 WIB : Bakti Sosial

16.00 – 18.30 WIB : Istighotsah dan Seni Al-Qur'an

19.00 – 21.00 WIB : Halal Bi Halal

Panitia mengajak seluruh jamaah, pengurus, serta masyarakat umum untuk hadir dan ikut meramaikan kegiatan ini. Selain menjadi ajang saling memaafkan pasca Idulfitri, acara ini juga menjadi sarana memperkuat kebersamaan warga Nahdliyin serta menumbuhkan semangat pelayanan sosial kepada masyarakat.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan JATMAN Sidoarjo bersama seluruh elemen yang terlibat dapat terus memberikan manfaat nyata bagi umat dan menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di tengah masyarakat.

Kamis, 12 Maret 2026

Rihlah Mujahadah JATMAN Sidoarjo: Menguatkan Ukhuwah dan Spirit Perjuangan di Bulan Ramadhan

Jam'iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Syu'biyah Sidoarjo

Sidoarjo – Dalam rangka meningkatkan spiritualitas serta mempererat silaturahmi antar pengurus dan jamaah, Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Kabupaten Sidoarjo menggelar kegiatan Rihlah Mujahadah pada hari Rabu, 11 Maret 2026 bertepatan dengan 21 Ramadhan 1447 H.

Kegiatan diawali dengan buka puasa bersama yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Amanah Junwangi, Krian. Suasana kebersamaan dan kekhidmatan terasa sejak awal acara, di mana para pengurus dan jamaah JATMAN Sidoarjo berkumpul untuk mempererat ukhuwah serta memanfaatkan momentum bulan suci Ramadhan sebagai sarana meningkatkan kualitas ibadah.

Setelah berbuka puasa, kegiatan dilanjutkan dengan shalat Isya dan shalat Tarawih berjamaah. Usai pelaksanaan shalat Tarawih, para peserta mengikuti bincang santai dan diskusi yang membahas berbagai problematika pembentukan Idarah Syu’fiyah serta dinamika kegiatan JATMAN di berbagai wilayah. Diskusi berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, sebagai upaya mencari solusi dan memperkuat koordinasi organisasi.

Sekitar pukul 22.30 WIB, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju makam salah satu ulama besar di Tuban, yaitu Sunan Bejagung. Di lokasi tersebut para peserta melaksanakan mujahadah dan doa bersama yang berlangsung hingga sekitar pukul 03.00 WIB. Kegiatan mujahadah ini menjadi momentum spiritual untuk memohon keberkahan, kekuatan, dan kelancaran dalam menjalankan amanah organisasi serta perjuangan dakwah thariqah.

Setelah rangkaian mujahadah selesai, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pondok Pesantren Bahrul Huda untuk melaksanakan sahur bersama. Suasana kebersamaan semakin terasa saat para peserta berkumpul menikmati hidangan sahur dengan penuh kehangatan.


Usai melaksanakan shalat Subuh berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan silaturahmi bersama pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Huda, yaitu KH. Fathul Huda yang juga menjabat sebagai Rais Idarah Wustho JATMAN Jawa Timur. Dalam kesempatan tersebut beliau memberikan berbagai nasihat serta arahan terkait penguatan jamaah thariqah, pengembangan organisasi, serta pentingnya menjaga keikhlasan dan istiqamah dalam berkhidmah.

Diskusi berlangsung hingga menjelang shalat Dhuha, sebelum akhirnya rangkaian kegiatan Rihlah Mujahadah ini ditutup. Seluruh rombongan kemudian kembali ke Sidoarjo dengan membawa semangat baru untuk terus memperkuat perjuangan dan pengabdian di lingkungan JATMAN.

Kegiatan ini diharapkan menjadi sarana penguatan spiritual, konsolidasi organisasi, serta mempererat tali silaturahmi antar pengurus dan jamaah JATMAN, khususnya di wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Kamis, 05 Februari 2026

Dauroh Ilmiah Bersama Syaikh Dr. Yusri Rusydi Jabr Al-Hasani Al-Azhari Digelar di Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi

Jam'iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Syu'biyah Sidoarjo

Junwangi, Krian — Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi menggelar kegiatan Dauroh Ilmiah bersama Syaikh Dr. Yusri Rusydi Jabr Al-Hasani Al-Azhari, Mursyid Thariqah Shiddiqiyyah Syadziliyah, pada Rabu, 04 Februari 2026 bertepatan dengan 16 Sya’ban 1447 H. Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB ini bertempat di Pendopo Giri Kedaton Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi.

Kegiatan dauroh ilmiah tersebut dihadiri oleh pengurus Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Kabupaten Sidoarjo, para asatidz dan ustadzah, serta santri dan jamaah. Acara juga disiarkan secara langsung melalui Al-Amanah Junwangi TV.

Dalam penyampaian materi, Syaikh Dr. Yusri Rusydi Jabr Al-Hasani Al-Azhari menekankan pentingnya adab dan metode pendidikan yang meneladan
i akhlak Rasulullah SAW
, khususnya bagi para guru dan pendidik. Beliau mengingatkan agar pendidik tidak mendidik dengan cara mencaci maki, merendahkan, atau mempermalukan murid, karena hal tersebut dapat melukai jiwa dan mematikan semangat belajar.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Rasulullah SAW dalam mendidik umatnya selalu mengutamakan kelembutan, kasih sayang, dan kebijaksanaan, termasuk dalam menasihati dengan mendahulukan pujian sebelum koreksi, sehingga nasihat dapat diterima dengan lapang dada dan membekas dalam hati.

Para peserta mengikuti dauroh dengan penuh khidmat dan antusias. Materi yang disampaikan dinilai sangat relevan, khususnya bagi para guru dan asatidz dalam memperbaiki metode pendidikan dan pembinaan karakter santri.

Kegiatan dauroh ilmiah ini diharapkan mampu menjadi bekal bagi para pendidik untuk menumbuhkan lingkungan pendidikan yang berlandaskan akhlakul karimah serta meneladani sunnah Rasulullah SAW dalam proses belajar mengajar

Sabtu, 31 Januari 2026

PELANTIKAN 23 IDARAH SA’AFIYYAH SE-KECAMATAN WONOAYU BERLANGSUNG KHIDMAT

Jam'iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Syu'biyah Sidoarjo

Wonoayu – Sebanyak 23 Idarah Sa’afiyyah se-Kecamatan Wonoayu resmi dilantik pada Jum’at, 30 Januari 2026, bertempat di Masjid Roudhotul Jannah, Desa Becirongengor, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo.

Pelantikan tersebut dilaksanakan ba’da sholat Isya’, setelah rangkaian kegiatan Lailatul Ijtima’ MWC NU Wonoayu. Suasana acara berlangsung khidmat, tertib, dan penuh kekhusyukan, dihadiri para pengurus JATMAN, tokoh NU setempat, serta jamaah Lailatul Ijtima’.

Prosesi pelantikan diawali dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) oleh Sekretaris Idarah Syu’biyyah JATMAN Sidoarjo, Ust. Achmad Zubaidi, S.Pd. Dalam pembacaan SK tersebut ditegaskan pengesahan kepengurusan 23 Idarah Sa’afiyyah yang akan menjalankan amanah organisasi di wilayah Kecamatan Wonoayu.

Selanjutnya, prosesi baiat kepengurusan dipandu langsung oleh Mudir Idarah Syu’biyyah JATMAN Sidoarjo, Kyai M. Ali Fikri, S.Ag. Para pengurus yang dilantik mengikuti baiat dengan penuh kesungguhan sebagai bentuk komitmen untuk menjalankan tugas, menjaga amaliyah Ahlussunnah wal Jama’ah, serta menghidupkan kegiatan JATMAN di tingkat kecamatan dan desa.

Pelantikan ini diharapkan menjadi awal penguatan struktur organisasi Idarah Sa’afiyyah di Kecamatan Wonoayu, sekaligus meningkatkan koordinasi, konsolidasi, dan khidmah JATMAN di tengah masyarakat.

Dengan telah dilantiknya 23 Idarah Sa’afiyyah ini, JATMAN Kecamatan Wonoayu diharapkan semakin solid dalam menjaga tradisi keilmuan, amaliyah thariqah mu’tabarah, serta berkontribusi aktif dalam kegiatan keagamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Kamis, 15 Januari 2026

Pengajian Bulanan Sabtu Ke-3 JATMAN Sidoarjo Khusus Pengurus

Jam'iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Syu'biyah Sidoarjo

Sidoarjo – Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Idarah Syu’biyyah Sidoarjo kembali akan menyelenggarakan Pengajian Bulanan Sabtu Ke-3, yang pada kesempatan ini merupakan pelaksanaan ke-3.

Pengajian tersebut insyaAllah akan dilaksanakan pada:

  • Hari/Tanggal: Sabtu, 17 Januari 2026

    • Pukul : 13.00 WIB - Selesai 
  • Tempat: Pondok Pesantren Al Amanah, Junwangi, Krian, Sidoarjo

Kegiatan pengajian ini dikhususkan bagi pengurus JATMAN Idarah Syu’biyyah, Ghusniyyah, dan Sa’afiyah, sebagai bagian dari penguatan internal organisasi dan pendalaman keilmuan thariqah.

Pengajian diasuh langsung oleh Rois Idarah Syu’biyyah JATMAN Sidoarjo, KH. Nurkholis Misbah, dengan kajian kitab Imdâd al-Arbâbi an-Nuhâ, yang menjadi rujukan penting dalam penguatan nilai-nilai tasawuf dan amaliah thariqah.

Melalui pengajian rutin ini, diharapkan para pengurus JATMAN di semua tingkatan dapat semakin mantap dalam memahami ajaran thariqah, menjaga kesinambungan sanad keilmuan, serta memperkuat koordinasi dan kekompakan dalam menjalankan khidmah organisasi.

Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar JATMAN Sidoarjo dalam menjaga tradisi keilmuan, spiritualitas, dan komitmen terhadap ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah.

Senin, 05 Januari 2026

Rapat Pertanggungjawaban Mujahadah Kubroh JATMAN Sidoarjo 2025

Jam'iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Syu'biyah Sidoarjo

 

Rabu, 31 Desember 2025 pukul 14.00 WIB telah dilaksanakan Rapat Pertanggungjawaban Kegiatan Mujahadah Kubroh yang diselenggarakan oleh Idaroh Syu’biyah JATMAN Sidoarjo bekerja sama dengan PEMKAB Sidoarjo Tahun 2025.

Rapat berlangsung di PP. Al Amanah Junwangi.

Kegiatan diawali dengan khutbah iftitah yang disampaikan oleh Romo KH. Nurkholis Misbah, selaku Pengasuh Pondok Pesantren Al Amanah sekaligus Rois Syu’biyah JATMAN Sidoarjo. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Sholawat Thoriqiyah yang dipimpin oleh KH. Maslikhan, Mudir Ghusniyyah Waru.

Dalam pesannya, Rois Syu’biyah JATMAN Sidoarjo menyampaikan nasihat kepada seluruh panitia:

“Pengabdian pada organisasi adalah bagian dari thoriqoh. Oleh karena itu, laksanakan dengan ikhlas dan tulus.”

Semoga seluruh khidmah dan pengabdian kita di JATMAN menjadi ladang amal kebaikan, membawa keberkahan, serta memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat luas.

🌿 JATMAN Sidoarjo – Khidmah dengan Ikhlas, Berjuang dengan Istiqamah 🌿

Senin, 08 Desember 2025

Ribuan Pengamal Thariqah Padati Mujahadah Kubro JATMAN Sidoarjo 2025 di Pendopo Delta Wibawa

Jam'iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Syu'biyah Sidoarjo

 

Sidoarjo – Ribuan pengamal thariqah yang tergabung dalam Idaroh Syu’biyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Kabupaten Sidoarjo memadati Pendopo Delta Wibawa dalam gelaran Mujahadah Akbar 2025, Ahad (7/12/2025). Sejak pagi buta, jamaah dari 18 kecamatan yang mewakili lebih dari 300 desa telah berdatangan untuk mengikuti rangkaian dzikir dan doa bersama yang berlangsung penuh kekhidmatan.

Acara akbar yang rutin digelar setiap tahun ini menjadi salah satu momentum spiritual terbesar bagi para pengamal thariqah di Kabupaten Sidoarjo. Selain jamaah, hadir pula para masyayikh, mursyid thariqah mu’tabarah, para kiai, serta pejabat pemerintah daerah.


Rangkaian Acara Dimulai Pukul 07.00 WIB

Tepat pukul 07.00 WIB, acara dibuka dengan Khotmil Qur’an yang dilantunkan oleh para hafidzoh dari Wathona JATMAN. Suara merdu para penghafal Al-Qur’an menggema di dalam pendopo, memberikan suasana sejuk dan penuh keteduhan.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan tawassul, pembacaan manaqib, dan mahallul qiyam yang dipimpin oleh Jam’iyyah Thoriqoh Utsmani (Al-Hidmah). Ribuan jamaah berdiri serentak melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, menciptakan gelombang spiritual yang sangat terasa kekuatannya.


Acara Inti Dibuka Pukul 09.00 WIB

Memasuki pukul 09.00 WIB, acara inti dimulai. Kyai Mujib Edikara tampil membuka mujahadah secara resmi, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Iftitah oleh KH. Manaf.

Setelah itu, lantunan Sholawat Thoriqiyah dipimpin oleh KH. Sirojuddin Ahmad, yang disambut dengan antusias dan kekhusyukan oleh seluruh jamaah.

Acara dilanjutkan dengan Sambutan Ketua PCNU Sidoarjo, yang menekankan pentingnya peran JATMAN dalam membina kehidupan spiritual masyarakat serta menjaga tradisi keagamaan yang telah diwariskan para ulama.

Selanjutnya, Bupati Sidoarjo, H. Subandi, SH., M.Kn., menyampaikan sambutannya. Dalam kesempatan itu, Bupati menegaskan bahwa keamanan dan ketentraman Kabupaten Sidoarjo tidak lepas dari doa dan bimbingan para ulama.

“Sidoarjo akan tetap aman dan tentram selama para kiai sepuh NU terus mendoakan negeri ini. Pemerintah sangat membutuhkan sinergi dengan para ulama,” ujar Bupati Subandi.


Mau’idhotul Hasanah oleh Dr. KH. Luqman Hakim

Puncak acara diisi dengan Mau’idhotul Hasanah oleh Dr. KH. Luqman Hakim dari Jakarta. Dalam tausiahnya, beliau menguraikan pentingnya menjaga hati yang selalu hidup dengan dzikir dan kedekatan kepada Allah SWT.

“Hati yang gelap hanya bisa diterangi dengan dzikir. Thariqah adalah jalan untuk menghidupkan hati dan membersihkan jiwa,” dawuh beliau.

Beliau juga menegaskan bahwa amalan thariqah bukan sekadar ritual, tetapi jalan panjang penyucian diri yang harus dibarengi keikhlasan dan ketekunan.


Dihadiri Para Mursyid dan Tokoh Ulama dari Berbagai Daerah

Acara ini dihadiri oleh belasan mursyid thariqah mu’tabarah dari berbagai daerah, antara lain:

  • 1.        KH. Ngadiyin Anwar (Naqsabandiyyah kholidiyyah) dari Madiun                   

    2.        KH. Fatkhul Huda (Syadziliyyah) dari Tuban                                                    

    3.        KH. Musthofa Badri (Tijaniyyah) dari Probolinggo                                           

    4.        KH. Robert Abu Bakar (Naqsabandiyyah kholidiyyah) dari Tulungagung        

    5.        KH. Kharisudin Aqib (Qodiriyyah Wa Naqsabandiyyah) dari Nganjuk            

    6.        DR.KH.Lukman Hakim dari Jakarta                                                                  

    7.        KH. Muhsin Nur Hadi (Qodiriyyah wa naqsabandiyyah) dari Surabaya           

    8.        KH. Ubaidillah Ahror (Naqsabandiyyah Kholidiyyah) dari Temboro               

    9.        KH. Yahya Muidi (Naqsabandiyyah Kholidiyyah) dari Pakis                            

    10.    KH.Jazuli (Tijaniyyah) dari Taman                                                                    

    11.    KH. Nizam As-shofa (Nasabandiyyah Kholidiyah Shofaiyyah) dari Wonoayu

    12.    KH. Faqih Ustman (Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah) dari Mojokerto              

    13.    KH.Agus Nur Rohman (Ar-Rofiiyyah) dari Krian                                             

    14.    KH.Rizki Mubarok (Mursyid dari Bali)                                                             

    15.  KH Qushay Qurrovi (Al-Khidmah) dari Surabaya


    dan sejumlah mursyid lain yang berasal dari berbagai kota di Jawa Timur dan luar daerah.

Kehadiran para masyayikh dan mursyid ini memberikan nilai spiritual tersendiri bagi para jamaah yang hadir.


Pesan Spiritual dari Rois Ifadhiyah JATMAN Sidoarjo

Di sela acara, KH. Nurcholis Misbah, Rois Ifadhiyah Idaroh Syu’biyah JATMAN Sidoarjo, menegaskan pentingnya menjaga spiritualitas dan kecerdasan batin dalam menghadapi berbagai fenomena kehidupan modern.

“Bencana bukan hanya fenomena alam, tetapi juga peringatan agar kita tidak lalai dari Allah. Dzikir dan mujahadah ini menjadi momentum untuk kembali menguatkan hubungan spiritual kita,” ujarnya.

Beliau juga menekankan bahwa kepedulian sosial dan gotong-royong harus berjalan seiring dengan ibadah ritual.


Kesan Ketua Panitia Mujahadah Akbar

Ketua panitia, Gus Izza, menyampaikan syukur mendalam atas suksesnya kegiatan ini.

“Alhamdulillah, semua berlangsung lancar. Kehadiran ribuan jamaah dan para masyayikh membawa keberkahan besar bagi warga Sidoarjo,” ungkapnya dengan wajah sumringah.


Kutipan Lengkap dari Mudir JATMAN Sidoarjo

Dalam kesempatan terpisah, KH. Ali Fikri, Mudir Idaroh Syu’biyah JATMAN Sidoarjo, juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dukungan berbagai pihak.

“Kehadiran para mursyid adalah anugerah besar bagi kita semua. Mereka datang dari berbagai daerah dengan niat tulus untuk membimbing jamaah," dawuh beliau.

Beliau juga menambahkan:

“Dalam kegiatan sebesar ini tentu ada kekurangan. Namun justru kekurangan itulah yang menjadi bahan evaluasi kami agar tahun depan lebih baik. Yang utama adalah semangat kebersamaan dan kesungguhan dalam bermujahadah,” tuturnya dengan penuh optimisme.


Penutupan Acara

Menjelang masuk waktu Dzuhur, seluruh rangkaian acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin para mursyid. Jamaah mengangkat tangan dengan penuh harap agar Allah senantiasa melindungi Kabupaten Sidoarjo dari segala bentuk bencana, fitnah, dan musibah.

Suasana haru menyelimuti pendopo ketika ribuan peserta mengaminkan doa penutup, menandai berakhirnya Mujahadah Akbar 2025 yang penuh keberkahan.

Jumat, 21 November 2025

Pengajian Rutin Kitab Imdad Arbābi Nuha Pertemuan ke-2 Akan Digelar di PP Modern Al-Amanah Junwangi Krian

Jam'iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Syu'biyah Sidoarjo

 

Pengajian rutin Sabtu ke-3 yang diselenggarakan oleh Idarah Syu’biyyah JATMAN Sidoarjo akan kembali digelar pada Sabtu, 22 November 2025, bertempat di Pondok Pesantren Modern Al-Amanah, Junwangi Krian. Pengajian ini merupakan pertemuan ke-2 dengan kajian kitab Imdad Arbābi Nuha, dan akan dimulai pada pukul 13.00 WIB.

Kegiatan pengajian rutin ini menjadi sarana memperdalam ilmu thariqah, memperkokoh silaturrahim antar jamaah, serta memperkuat pemahaman amaliah dalam lingkungan JATMAN. Para jamaah, muhibbin, serta pengurus Idarah Syu’biyyah diharapkan dapat hadir tepat waktu untuk mengikuti kajian secara lengkap.

Selain pengajian, pada kesempatan tersebut juga direncanakan digelar rapat panitia pembahasan kegiatan Mujahadah Kubro. Rapat ini akan dilaksanakan setelah pengajian selesai, guna mematangkan berbagai persiapan menjelang acara akbar Mujahadah Kubro yang akan diadakan pada 07 Desember 2025.

Dengan terselenggaranya dua agenda penting ini, diharapkan para pengurus dan jamaah dapat semakin solid dalam menyukseskan seluruh program JATMAN Sidoarjo, baik dalam bidang pengajian rutin maupun kegiatan besar yang melibatkan banyak elemen thariqah di Kabupaten Sidoarjo.

Senin, 17 November 2025

Pimpinan Idarah Syu’biyyah JATMAN Sidoarjo dan Panitia Mujahadah Kubro Lakukan Silaturahim ke Para Mursyid Thariqah se-Kabupaten Sidoarjo

Jam'iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Syu'biyah Sidoarjo

Dalam rangka menyukseskan pelaksanaan Mujahadah Kubro yang akan digelar pada Ahad, 07 Desember 2025 di Pendopo Bupati Sidoarjo, Pimpinan Idarah Syu’biyyah JATMAN Sidoarjo bersama panitia resmi melakukan rangkaian kunjungan silaturahim ke para Mursyid Thariqah yang jamaahnya tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Kunjungan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengajak para mursyid untuk berpartisipasi dan mendukung penuh kesuksesan kegiatan akbar JATMAN tersebut. Beberapa thariqah yang dikunjungi antara lain Thariqah Tijaniyah, Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), Jamu Taqwa, serta berbagai thariqah mu‘tabarah lainnya yang berada di bawah naungan Jam’iyyah Thoriqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah.


Dalam setiap kunjungan, pimpinan Idarah Syu’biyyah dan panitia mendapat sambutan hangat dari para mursyid. Mereka menyampaikan apresiasi atas agenda besar Mujahadah Kubro yang bertujuan memohon keselamatan, ketentraman, dan keberkahan bagi Kabupaten Sidoarjo. Para mursyid juga memberikan doa restu serta menegaskan kesiapannya untuk hadir dan mengajak jamaah masing-masing.

Rangkaian silaturahim ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi antarthariqah sekaligus mempererat ukhuwah spiritual di lingkungan JATMAN Sidoarjo. Dengan dukungan para mursyid, panitia optimis bahwa Mujahadah Kubro nanti akan berlangsung khidmat, lancar, dan penuh keberkahan.

Silaturahim ini menjadi bukti bahwa JATMAN Sidoarjo terus mengedepankan kolaborasi, persatuan, dan adab dalam setiap langkah menyongsong kegiatan besar yang membawa maslahat bagi masyarakat luas.

Sabtu, 15 November 2025

Idarah Syu’biyyah JATMAN Sidoarjo Gelar Mujahadah Kubro

Jam'iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Syu'biyah Sidoarjo




Idarah Syu’biyyah JATMAN Sidoarjo akan menggelar Mujahadah Kubro sebagai momentum doa bersama demi terciptanya ketentraman, kemakmuran, dan keberkahan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan akbar ini direncanakan berlangsung pada Ahad, 07 Desember 2025 bertempat di Pendopo Bupati Sidoarjo.

Acara tersebut akan dihadiri oleh para Ulama’, Mursyid, Kholifah, Badal, Muqoddam, serta Imam Khusushi Jam’iyyah Thoriqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah se-Kabupaten Sidoarjo, sehingga diperkirakan menjadi ajang silaturahmi spiritual terbesar JATMAN di tingkat kabupaten.

Rangkaian kegiatan Mujahadah Kubro akan dimulai dengan Khataman Al-Qur’an 30 Juz, dilanjutkan Istighotsah, kemudian pembacaan Manaqib Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani, dan pembacaan Sholawat Thoriqiyah. Setelah itu acara diteruskan dengan rangkaian sambutan-sambutan dari para tokoh.

Sebagai penutup, para mursyid akan memimpin doa bersama secara bergantian, memohon keselamatan serta limpahan rahmat Allah bagi Kabupaten Sidoarjo dan seluruh warga.

Dengan adanya kegiatan ini, JATMAN Sidoarjo berharap agar ikhtiar batiniah ini menjadi wasilah turunnya ketenangan, persatuan, dan keberkahan bagi daerah tercinta. Acara ini terbuka bagi masyarakat yang ingin turut serta memohonkan kebaikan bagi Kabupaten Sidoarjo.

Senin, 03 November 2025

JATMAN Sidoarjo Gelar Pengajian Rutin Al-Hikam Bersama DR. KH. Luqman Hakim di Masjid Agung Sidoarjo

Jam'iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Syu'biyah Sidoarjo

Sidoarjo, Ahad (2 November 2025)Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Sidoarjo kembali menggelar Pengajian Rutin Al-Hikam yang diasuh oleh DR. KH. Luqman Hakim di Masjid Agung Sidoarjo. Acara berlangsung dengan penuh khidmat mulai pukul 08.00 hingga 10.30 WIB, dihadiri oleh jamaah thariqah dan masyarakat umum dari berbagai wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan shalat dhuha berjamaah yang dipimpin oleh KH. Arli Fauzi, kemudian dilanjutkan istighotsah yang dipimpin oleh Gus Huda. Selanjutnya, Ibu Nyai Wiwik Hidayati memimpin pembacaan Sholawat Thoriqiyah, yang diteruskan dengan Mahallul Qiyam dan lantunan sholawat yang dipimpin oleh Dr. Habib bersama grup hadrah, menambah suasana religius dan penuh keberkahan.

Tepat pukul 09.00 WIB, acara inti yakni kajian kitab Al-Hikam dimulai. Dalam tausiyahnya, DR. KH. Luqman Hakim menguraikan makna-makna hikmah dari karya besar Ibn ‘Athaillah as-Sakandari, menekankan pentingnya keikhlasan, penyucian hati, dan ketundukan kepada kehendak Allah SWT. Beliau mengingatkan bahwa tasawuf sejati bukan hanya teori, tetapi harus diwujudkan dalam akhlak dan amal nyata.

Usai kajian, jamaah diberi kesempatan untuk bertanya langsung dalam sesi tanya jawab yang berlangsung hangat dan penuh pencerahan. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan dan keteguhan iman bagi seluruh hadirin.

Seluruh rangkaian kegiatan dipandu secara tertib dan khidmat oleh KH. Maslihan Alwi selaku pembawa acara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda rutin JATMAN Sidoarjo dalam rangka memperkuat ukhuwah thariqiyyah, memperdalam pemahaman spiritual, serta menumbuhkan semangat dzikir dan muhasabah di kalangan masyarakat Sidoarjo.

Kajian Secara lengkap bisa Anda ikuti di link Youtube Jatman Sidoarjo

https://www.youtube.com/live/CPccvkns-d8?si=9egRE5178Q1QA7Dp 

Sabtu, 01 November 2025

Sejarah JATMAN Sebagai BANOM NU

Jam'iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah Syu'biyah Sidoarjo

 

Oleh: Dr. Ali M. Abdillah, MA (Sekretaris Umum Idarah Aliyah JATMAN) 

Melacak jejak sejarah pendirian organisasi tarekat yang saat ini dikenal dengan Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) yaitu dengan menggali bukti sejarah baik yang berupa oral history (sejarah lisan), manuskrip maupun dokumen. Ada satu manuskrip yang diperoleh dari KH. Chawani yaitu Risalah al-Mu’tamar al-Awwal yang berisi laporan kegiatan muktamar pertama pendirian organisasi tarekat pada tanggal 12-13 Oktober 1957 di Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. Chudlori.

Dalam Risalah al-Mu’tamar al-Awwal di bagian cover depan paling atas terdapat kutipan ayat al-Qur’an:

وَاَنْ لَّوِاسْتَقَامُوْا عَلىَ الطَّرِبْقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا (الجن: 16)

“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (Islam, Iman, Ihsan) kami benar-benar akan memberi minum kepada mereka yang segar.” (QS. Al-Jin: 16)

Dalam cover depan bagian tengah terdapat nama-nama tarekat mu’tabarah yang jumlahnya 44 tarekat ditulis secara melingkar. Kemudian dari tengah lingkaran terdapat tumpukan kitab-kitab tasawuf yang menjadi rujukan dalam tarekat mu’tabarah. Di bagian cover depan bagian kanan terdapat tulisan al-Mu’tamar al-Awwal li-‘ulamai ahlith thariqah al-Qaddiriyah wan-Naqsabandiyah wa-sairi al-Thuruq al-Mu’tabarah fi-Tegalrejo Magelang Jawa al-Wustha 12-13 Oktober 1957. Kemudian paling bawah terdapat tulisan Risalah al-Mu’tamar al-Awwal.

Dalam muqadimah pada halaman pertama dimulai basmalah, hamdalah, shalawat ala Rasulillah amma ba’du dijelaskan bahwa sangat penting mempublikasi putusan kongres Alim Ulama Ahlith Thariqah yang dilaksanakan pada tanggal 12-13 Oktober 1957 di Tegalrejo Magelang Jawa Tengah. Pada halaman kedua dijelaskan latar belakang terlaksananya kongres Alim Ulama Thariqah berawal dari perjalanan KH. Nawawi Purworejo silaturahmi di rumahnya KH. Masruhan Brumbung Mranggen Demak pada tanggal 13 Desember1955 selain itu juga ada urusan lain. Pada saat pertemuan dua tokoh tersebut saling menyampaikan telah mendapatkan ilham yang sama, kemudian menjadi pembahasan dalam diskusi hingga memunculkan uluwwi al-himmah (cita-cita yang luhur) untuk mendirikan organisasi Ikatan Ulama Ahlith Thariqah dengan berbagai pertimbangan yang mendalam sehingga tidak ragu lagi untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut.

Tindak lanjut dari rencana tersebut dibahas lagi pada saat acara Haul Kyai Ibrahim Brumbung Demak pada tanggal 12 September 1956. Pada acara haul tersebut banyak ulama yang hadir termasuk para kasepuhan seperti KH. Raden Asnawi Kudus, KH. Ma’shum Lasem, KH. Mandzur, KH. Junaidi Jogja, KH. Abdurahman Kendal dan lainnya. Dalam pertemuan tersebut disampaiakan gagasan pendirian organisasi thariqah kepada ulama sepuh yang hadir ternyata mereka menyetujui untuk mendirikan organisasi thariqah.

Tujuan alasan kuat sebagi latar belakang berdirinya Ikatan Ulama Ahlith Thariqah yaitu:

  1. Mengingat banyaknya munculnya kelompok yang menggunakan amal thariqah yang batil yang bisa merusak nama baik amalan thariqah yang benar. Bahkan kelompok-kelompok tersebut membuat persatuan sampai melakukan kongres tiga kali. Maka sudah seharusnya para pengamal thariqah yang mayoritas dan haq (benar) sudah seharusnya mendirikan persatuan supaya tidak dikalahkkan oleh kelompok kecil yang bersatu.
  2. Mengingat banyaknya orang-orang yang mengaku-aku sebagai khalifah yang menisbatkan kepada thariqah Qadiriyaha, thariqah Naqsabandiyah atau thariqah lainnya, padahal khalifah tersebut belum ma’dhun min al-shaykh (mendapatkan izin) seringkali mereka belum memahami seluk beluk thariqah Qadiriyaha atau Naqsabandiyah.
  3. Mengingat jasa-jasa para ulama thariqah sangat besar sekali di tengah masyarakat khusunya terhadap partai Islam tapi masih banyak pemimpin Islam yang mencela ulama thariqah bahkan ada yang menentang balik bahkan ada yang berbicara menuduh ulama thariqah sebagai penyebab mundurnya kemerdekaan Indonesiah, mereka merasa cukup dengan zikir Lailaha illallah sehingga menyebabkan rakyat ikut lemah hanya mengandalkan doa saja.
  4. Banyak rakyat yang telah menjadi pengikut thariqah sudah tersebar luas baik di kota, di pelosok pedesaan maupun di daerah pegunungan di seluruh wilayah Indonesia. Maka wajar bagi para murid thariqah mengikuti gurunya seratus persen sehingga para murid menjadi warga negara yang tekun dan patuh kepada Pemerintah, hukum Islam dan partai.
  5. Para Alim Ulama Thariqah memiliki kedalaman ruhani dan kokoh sebagai benteng Negara Kesatuan Republik Indoensia.
  6. Banyak sekali para Mursyid Thariqah yang belum menguasai ilmu syariah terus memberikan tarbiyah kepada murid-muridnya hingga melampaui batas, mengikuti hawa nafsu masing-masing seperti tawajuh adu jidat atau musafahah (salaman) dengan tanpa penghalang kepada murid ajnabiyah (bukan muhrim) hingga menimbulkan fitnah sebagaimana yang telah terjadi.
  7. Mengingat banyaknya sesama Ahli Thariqah yang saling mencela, bertentangan, fanatik, cinta pangkat, ujub dengan dirinya sendiri, merasa paling hebat seperti ucapan Iblis ana khairun minhu (aku lebih baik dari Adam). Melihat kondisi yang demikian jika tidak diperbaiki dengan sungguh-sungguh akan mendatangkan kerusakan atau mafsadah yang lebih besar.

Karena itu, dengan tujuh alasan tersebut kita berikhtiar membuat Ikatan Ahlith Thariqah dengan tujuan utama (maqsud al-a’dham) melanggengkan persatuan para Alim Ulama Ahlith Thariqah Mu’tabarah dengan tetap menjunjung tinggi pada thariqah masing-masing. Selain itu, mencari jalan untuk memperbaiki kekecewaan maka harus berani tampil menunjukkan eksistensi diri di tengah masyarakat supaya dikenal oleh rakyat umum bahwa thariqah itu tidak kecil dan dapat dijadikan kaca brenggala (cermin) oleh rakyat khusunya Ikhwan thariqah dan semua ulamanya tidak ketinggalan zaman. Mereka tetap talazum (menetapi) dengan anak buahnya, bisa saling rukun dan bersatu, saling memahami bahwa semua thariqah tujuannya hanya mencari Ridha Allah, wa-ila rabbika muntahaha.

Segala apa yang menjadi niat baik dan ikhtiar kita dalam mendirikan organisasi thariqah sama seperti ikhtiarnya Hadrat al-Shaykh Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahhab Hasbullah dalam membentuk ikatan ulama Ahlus sunnah wal-jamaah yaitu organisasi Nahdlatul Ulama pada tanggal 31 Januari 1926. Tujuan utama pendirian organisasi ini untuk membentengi umat supaya tidak terpengaruh ajaran dan pemikiran yang keluar dari Ahlus sunnah wal-jamaah. Demikian tujuan dari pendirian organisasi thariqah yang menjadi pondasi utama dalam berjam’iyyah (organisasi).

Selanjutnya dilakukan pertemuan secara intensif saat Haul almarhum Kyai Zarkasi Berjan Purworejo pada tanggal 15 Syaban bertepatan 17 Maret 1957. Pada pertemuan tersebut disepakati dibentuk Sekretariat sementara untuk mengurusi pembentukan panitia kongres. Berita tentang pendirian organisasi thariqah sudah tersebar dimana-mana hingga sampai pada KH. Romli Peterongan Jombang.

Berita tersebut juga sampai pada KH. Chudlori pengasuh Pondok Pesantren API Tegarejo, Magelang. SKH. Chudlori merupakan teman dekat KH. Nawawi yang pernah menjadi satu gotakan (kamar) saat mondok di KH. Ma’sum Lasem. Saat itu KH. Chudlori menanyakan pelaksanaan kongres pendirian organisasi thariqah kepada Kyai Nawawi. Menurut Kyai Chalwani dalam ceramahnya menjelaskan dialog KH. Chudlori dan KH. Nawawi.

Kiai Chudlori bertanya kepada Kiai Nawawi. “Bagaimana rencana kongres para wali-wali itu, jadi atau tidak?”

Lalu dijawab oleh Kiai Nawawi, “Sepertinya tidak jadi.”

Kemudian Kiai Chudlori menjawab, “Jangan begitu, masa para wali mau pertemuan tidak jadi, malu-maluin saja.”

Kiai Nawawi menjawab, “Biayanya gimana? Belum ada gambaran untuk pembiayaan kegiatannya.”

“Sudah nanti biaya biar saya yang mencarikan.” Jawab Kiai Chudlori.

Menurut Kyai Chalwani, kehebatan Kiai Chudlori Tegalrejo meskipun beliau bukan kiai thariqah tetapi beliau mendukung pelaksanaan Kongres Ulama Ahlith Thariqah dan sanggup mencarikan dana untuk kongres thariqah. Jadi Kyai Chudlori memiliki peranan penting dalam pelaksanaan organisasi Ulama Ahlith Thariqah.

Setelah itu, dilakukan rapat lanjutan di rumah Bapak Ramlan Semarang pada 11 Agustus 1957 untuk menyusun struktur panitia kongres ulama ahlith thariqah dengan susunan sebagai berikut:

Pelindung I : KH. Romli Tamim Peterongan Jombang

Pelindung II : Andi Patopoy Bupati Purwadadi

Ketua I : KH. Nawawi Berjan Purworejo

Ketua II : KH. Mandzur Tamanggung

Sekretaris I : Mahfudz Purworejo

Sekretaris II : Ma’shum Semarang

Bendahara I : Mangku Magelang

Bendahara II : Ramlan Semarang

Para tokoh pendukung kegiatan kongres yaitu KH. Chudlori Magelang, KH. Junaid Jogjakarta, KH. Nawawi Parakan, KH. Abdurahman Kendal, KH. Muslih Mranggen, KH. Masruhan Brumbung Demak, KH. Madkhan, Bapak Abdul Wahhab Magelang, Bapak Showam Solo, KH. Ibrahim Semarang, KH. Usman Mranggen Demak, KH. Raden Sulaiman Zuhdi Purworejo, Bapak Abdullah, dan 100 lebih panitia lokal dari Tegalrejo Magelang.

Panitia kongres telah mendata peserta yang hadir saat itu sekitar 3000 orang dengan rencana anggaran biaya sekitar Rp. 90.000. Panitia kongres bekerja keras mencari pendanaan baik berupa uang tunai maupun inatura yaitu berupa barang seperti beras, sapi, sayuran, buah dan lainnya. Untuk wilayah Purworejo dan Temanggung menyanggupi bahan mentah, sedangkan untuk wilayah Semarang, Demak, Kendal dan Purwodadi mengedarkan kartu infaq. Adapun dana yang masuk dari pengumpulan sebagai berikut:

  1. Infaq sebanyak Rp16.790,00
  2. Peninjau Rp12.025,00
  3. Bantuan PBNU Rp5.000,00
  4. Bantuan kementrian Rp15.000,00
  5. Pinjaman Rp5.503,50
  6. Bahan mentah Rp32.118,85

Total biaya masuk Rp90.000,00 dikurangi pengeluaran Rp86.436,85 sisa saldo = Rp3.563,15

Sebagai catatan dari panitia bahwa peserta yang hadir 1601 orang, dari estimasi sebelumnya sekitar 3000 peserta dengan menyisakan saldo Rp3.563,15. Peserta yang hadir terdiri dari utusan Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur yang jumlahnya 1478 ditambah anggota panitia pusat18 dibantu panitia lokal 105 sehingga total 1601.

Pembukaan Kongres

Acara pembukaan kongres dimulai pada tanggal 12 Oktober 1957 waktunya sesudah isya jam 8. Sebagai pimpinan sidang Bapak Andi Patopay Bupati Purwadadi. Adapun susunan acara sebagai berikut:

  1. Pembacaan al-Qur’an : KH. Raden Abdul Qadir Krapyak Jogjakarta
  2. Pembicara 1 : KH. Masykur Wakil Perdana Menteri KH. dham Kholid
  3. Pembicara 2 : KH. Bisyri Syamsuri Syuriyah PBNU
  4. Pembicara 3 : KH. Saifudin Zuhri PBNU
  5. Pembicara 4 : KH. Syukri Wakil Menteri Agama
  6. Pembicara 5 : Residen Magelang
  7. Pembicara 6 : Surat Bupati
  8. Pembicara 7 : Bapak Keamanan
  9. Pembicara 8 : Bapak Suya utusan Kementrian Agama

Amanat Menteri Agama pada Kongres Ulama Ahlith Thariqah

Pertama, para Ulama Ahlith Thariqah supaya lebih giat mengikuti kemajuan zaman sebab pihak di luar yang tidak paham memiliki anggapan seperti itu. Karena itu, para ulama thariqah harus senang membaca kitab al-Munqid min al-Dhalal.

Kedua, Kongres Ulama Ahlith Thariqah sangat diharapkan tidak mencampur aduk dengan kondisi negeri saat ini seperti membuat keputusan membubarkan kabinet dan lainnya. Bagi yang memahami politik diminta bergabung dengan partai masing-masing yang diminati.

Ketiga, Ulama Ahlith thariqah merupakan orang-orang yang bersih maka Menteri Agama berharap supaya keadaan negeri

Keempat, Keadaan negeri kita nanti akan maju maka para ulama ahlith thariqah harus menjadi pelopor dan teladan dalam memajukan ibadah badaniyah dan amal shaleh lainnya.

Kelima, Para ulama yang memiliki kedudukan dan jabatan yang penting bagi masyarakat diminta jangan sampai lupa terhadap sifat-sifat ulama seperti dalam Hadits, al-Ulama waratsah al-anbiya’.

Keenam, Kondisi negeri sedang mengalami maka dari itu para ulama jangan sampai ikut mengacau atau menambahi keruwetan dan diminta para ulama ahlith tahriqah ikut menyelesaikan. Jika kondisi negeri tidak stabil akan mudah terkena pengaruh tidak baik dari luar.

Ketujuh, Menteri Agama mendaokan semoga kongres diberikan kebaikan tanpa ada halangan apapun.

Sidang Pleno Pertama

Pada sesi sidang pertama dimulai jam 8 pagi pada hari ahad yang dipimpin KH. Zubair, sebagai sekretaris KH. Masruhan Brumbung, sekretaris kedua KH. Nafi’ Purong. Sidang memutuskan membuat Majelis tahrir yang dipimpin KH. Bisyri Syamsuri dengan anggota 17 ulama yaitu KH. Baidlowi Lasem, KH. Ma’shum Lasem, KH. Mahrus Ali Lirboyo, KH. Hafidz Rembang, KH. Mahfudz Kebumen, KH. Fachrudin Cilacap, KH. Muhyidddin Tegal, KH. Adlan Tebu reng, KH. Zufri Petak, KH. Sulaiman Zuhdi Purwarejo, KH. Abu Dzarrin Bojonegoro, KH. Muslih Mranggen, KH. Zaenal Makarim, KH. Badrun Salatiga, KH. Sholeh Trenggalek, KH. Nafi’ Porong, KH. Abdul Jalil Kudus.

Sidang hanya dapat memutuskan masalah nomor satu ditutup jam 12.00 waktu dhuhur. Berbarengan sidang dilaksanakan di lapangan juga diadakan kegiatan. Seabgai pembicara KH. Bisyri Syamsusri, KH. Mahrus Ali, KH. Malik, KH. KH. Bisyri Musthofa, KH. Rahmat, sebagai pembaca doa KH. Asnawi Kudus. Pimpinan Pak Andi Patopay jam 12.00 ditutup. Pengunjung yang hadir seitar 20.000.

Sidang kedua dan ketiga

Sidang kedua masih dipimpin oleh KH. Zubair Salatiga mulai jam 14.00 ba’da zawal memutuskan nomor dua dan tiga. Ssidang ditutup pada jam 4 waktu ashar. Selanjutnya sesudah isya pada jam 8 dimulai sidang dipimpin KH. Abdul Jalil Kudus memutuskan tiga masalah nomor 4,5,6. Jawaban terhadap semua masalah akan disampaikan di belakang.

Sidang sampai pada jam 12.30 terus dikembalikan kepada ketua panitia kongres yaitu KH, Nawawi memimpin acara pembentukan pengurus besar ikatan Alim Ulama Thariqah. Namun saat itu belum ada keputusan terkait pengurus besar hanya memutuskan dewan presidium yang jumlahnya enam tokoh. Dewan presidium bertugas menyusun pengurus besar termasuk pimpinan dan menyusun peraturan organisasi seperti anggaran dasar. Kongres berakhir pada jam 02.00 kemudian ditutup doa oleh KH. Baidlowi Lasem.

Susunan Dewan/anggota Presidium:

  1. KH. Mandzur Temanggung
  2. KH. Chudlori Magelang
  3. KH. Usman Surabaya
  4. KH. Hafidz Rembang
  5. KH. Nawawi Purworejo
  6. KH. Masruhan Brumbung Demak

Dewan Presidium akan melakukan sidang di Jawa Timur di rumahnya KH. Romli Tamim Peterongan Jombang.

Untuk memilih pimpinan organisasi Alim Ulama Ahlith Thariqah dewan Presidium melakukan shalat istikharah, semua mendapatkan isyarat yang sama yaitu KH. Baidhowi menjadi imam shalat di Masjidil Haram. Akhirnya disepakati KH. Baidlowi sebagai Rais Am pertama organisasi Alim Ulama Ahlith Thariqah. Terkait hal tersebut, Kyai Chalwani menjelaskan dalam ceramahnya, untuk mencari siapa yang pas menjadi Rais Akbar pertama. Lalu para kiai-kiai itu istikhorah dan bermimpi dengan alamat yang sama yaitu, melihat Kiai Baidlowi bin Abdul Aziz Lasem mengimami shalat jamaah di Masjidil Haram. Tariqahnya Mbah Baidlowi yaitu, Syattariyah merangkap Syadziliyah. Syattariyah itu seperti Mbah Imam Puro, Syadziliyah Mbah Dalhar Watu Congol. Dan pada akhirnya Mbah Baidlowi menjadi Rais Akbar, sedangkan ketuanya Mbah Zubair Salatiga (Tariqah Qadiriyah Naqsabandiyah) waktu itu beliau menjadi Rektor IAIN Walisongo Semarang dan pernah menjadi Rektor Sunan Ampel Surabaya.

Pelaksanaan Muktamar I hingga ke-13 sebagai berikut:

  1. Muktamar I di Tegalrejo Magelang Jawa Tengah pada tanggal 12 Oktober1957 M / 18 Rabiul Awal 1377 H.
  2. Muktamar II di Pekalongan Jaw Tengah pada tanggal 9 Nopember 1959 M / 8 Jumadil Ula 1379 H.
  3. Muktamar III di Tulung Agung Jawa Timur pada tanggal 28-30 Juli 1963 M / 26-28 Shafar 1383 H.
  4. Muktamar IV di Semarang Jawa Tengah pada tanggal 28-30 Oktober 1968 M / 4-7 Sya’ban 1388 H.
  5. Kongres V di Madiun Jawa Timur (Menggunakan istilah konggres V pada 24-27 Rajab 1395 H / 2-5 Agustus 1975 M). (Muktamar NU ke-26 pada tahun 1979 di Semarang diputuskan Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah sebagai Badan Otonomi PBNU dengan surat keputusan PBNU nomor: 137/Syur.PB/V/1980)
  6. Kongres VI di Kraksan Probolinggo Jawa Timur (Menggunakan istilah Kongres VI) pada tanggal 12-14 Rabiul Awal 1405 H / 5-7 Desember 1984.
  7. Muktamar VII di Mranggen Demak Jawa Tengah pada tanggal 16 Jumadil Ula 1410 H / 15 DES 1989 M.
  8. Muktamar VIII di Cabean Pasuruan Jawa Timur pada tanggal 1-5 Rabiul Tsani 1416 H / 27-31 Agustus 1995 M.
  9. Muktamar IX di Pekalongan Jawa Tengah dilaksanakan pada 26-28 pebruari 2000 M / 21-23 Dzul Qa’dah 1421 H.
  10. Muktamar X di Pekalongan Jawa Tengah pada 25-30 maret 2005 / 14-17 Shafar 1426 H.
  11. Muktamar XI di Malang Jawa Timur pada tanggal 10-13 Januari 2012.
  12. Muktamar XII di Pekalongan Jawa Tengah pada tanggal 15-18 Januari 2018.
  13. Kongres XIII di Asrama Haji Donohudan Boyolali Jawa Tengah pada tanggal 21-22 Desember 2024. Penggunaan istilah JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah) sejak Kongres V di Kraksan Probolinggo Jawa Timur sampai sekarang.

Struktur Organisasi JATMAN:

  1. Tingkat Pusat dinamakan Idarah Aliyyah JATMAN
  2. Tingkat Propinsi dinamakan Idarah Wustha JATMAN
  3. Tingkat kabupaten / kodya dinamakan Idarah Syu’biyah JATMAN
  4. Tingkat kecamatan dinamakan Idarah Ghusniyyah JATMAN
  5. Tingkat desa dinamakan IDARAH Saafiyyah JATMAN

Dalam tiap Idarah / Kepengurusan JATMAN di semua tingkatan (Idarah Aliyah, Idarah Wustha, Idarah Syubiyah, Idarah Ghusniyyah, Idarah Saafiyah) terdiri dari Mustafad, Ifadliyyah, Imdla’iyyah dan Imdadiyyah

Jam'iyah ahlith Thariqoh al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) merupakan organisasi keagamaan khusus bagi pengamal thariqah mu’tabarah. JATMAN berpegang teguh pada ajaran Islam Ahlussunah wal-Jama’ah yang telah dirintis dan dikembangkan oleh para salafus shalihin, yang bersumber dari Rasulullah SAW dengan sanad yang muttasil. Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) merupakan sarana untuk membangun ukhuwah para pengamal thariqah mu’tabarah.

*Tulisan ini atas permintaan salah satu KH. Fathul Huda Rais idarah Wustha Jawa Timur sebagai ikhtiar mengumpulkan bukti Sejarah pendirian JATMAN, tulisan ini dibuat untuk menyambut Harlah Jatman ke-68. Tulisan ini akan terus disempurnakan.

Editor: Khoirul Anam

sumber : https://jatman.or.id/melacak-sejarah-pendirian-jatman